All posts by eptikbsi6b

  1. Kasus Kejahatan pada Tahun 2013

Aktor  Taura  Denang  Sudiro  alias  Tora  Sudiro  dan  Darius  Sinathrya, mendatangi  Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro  Jaya untuk membuat laporan  penyebaran  dan  pendistribusian  gambar  atau  foto  hasil  rekayasa yang melanggar kesusilaan di media elektronik. “Saya  membuat  laporan,  sesuai  apa  yang  saya  lihat  di  media  twitter. Sebenarnya, saya  sudah  melihat  gambar  itu  bertahun-tahun  lalu.  Awalnya biasa  saja,  namun  sekarang  anak  saya  sudah  gede,  nenek  saya  juga marah-marah. Padahal sudah dijelaskan kalau itu adalah editan,” ujar Tora, di depan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polda Metro Jaya, Rabu (15/5). Ia  melanjutkan,  pihaknya  memutuskan  untuk  membuat  laporan  dengan nomor  TBL/1608//V/2013/PMJ/Dit  Krimsus, tertanggal  15  Mei  2013, karena penyebaran foto asusila itu kian ramai dan mengganggu privasinya. “Saya  merasa  dirugikan.  Sekarang  juga  kembali  ramai  (penyebarannya), Darius  juga  terganggu. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat  laporan. Pelakunya  belum  tahu  siapa,  namun  kami  sudah  meminta  polisi  untuk menelusurinya,” ungkapnya.

Dalam  kesempatan  yang  sama,  Darius,  menyampaikan  dirinya  juga  sudah mengetahui  beredarnya  foto  rekayasa  adegan  syur  sesama  jenis  itu,  sejak beberapa tahun lalu. “Sudah tahu  gambar  itu, beberapa  tahun  lalu. Awalnya saya cuek, mungkin kerjaan  orang  iseng  saja. Namun,  sekarang  banyak  teman-teman  di  daerah menerima  gambar  itu  via  broadcast  BBM.  Bahkan, anak kecil  saja  bisa melihat. Ini yang sangat mengganggu saya,” jelasnya. Darius yang merupakan saksi dan korban dalam  laporan  itu menambahkan, banyak teman-teman daerah  memintanya  untuk  mengklarifikasi  apakah benar  atau  tidak  foto  itu.  “Ya,  jelas  foto  ini palsu. Makanya  kami  laporkan,” katanya. Sementara  itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Audie Latuheru, menuturkan  berdasarkan  penyeledikan  sementara, disimpulkan jika foto itu merupakan rekayasa atau editan. “Kami baru melakukan penyelidikan awal dan menyimpulkan  ini  foto editan, bukan  foto  asli.  Hanya  kepala mereka  (Tora, Darius  dan Mike)  dipasang  ke dalam  gambar  asli,  kemudian  ditambahkan  pemasangan  poster  Film  Naga Bonar  untuk menguatkan  karakter  itu  benar-benar  Tora.  Selain  itu  tak  ada yang  diganti.  Editor  tidak  terlalu  bekerja  keras  (mengubah),  karena  hampir mirip gambar asli,” paparnya. Langkah  selanjutnya,  kata  Audie,  pihaknya  bakal  segera  melakukan penelusuran terkait siapa yang memposting gambar itu pertama kali. “Kami  akan  mencoba  menelusuri  siapa  yang  mengedit  dan  memposting gambar  itu  pertama  kali.  Ini  diedit  kira-kira  3  tahun  lalu,  tahun  2010. Kesulitan melacak memang ada, karena terkendala waktu yang sudah cukup lama. Jika pelaku  tertangkap,  ia  bakal  dijerat  Pasal  27  Ayat  (1)  Jo  Pasal  45 Ayat (1) UU RI 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” tegasnya.

Sebanyak 2 pelaku kasus penipuan melalui internet kembali dibekuk Sub Direktorat Cyber Crime Polda Metro Jaya, Minggu 14 April lalu. Dengan modus memasang iklan gratis penyewaan alat berat di sebuah website, pelaku mencantumkan profil perusahaan PT. Abhi Patra Mudawana beserta kontak yang terlihat serius untuk mengelabui korbannya. “Blog yang cantumkan harga ini membuat percaya korban. Merasa tertarik, korban hubungi nomor yang pasang iklan. Setelah uang dikirim, dicek lagi oleh korban karena barang tidak juga ada,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Jakarta, Rabu (8/5/2013).

Dari penangkapan ini, Rikwanto menuturkan, ada 4 tersangka yang terlibat. Namun, 2 di antaranya masih dicari keberadaannya alias DPO. “2 pelaku masih pencarian yaitu WU yang berperan pemberi masukan tentang teknik alat berat dan MD yang berperan sebagai penyedia dan pemilik tabungan atas nama perusahaan tersebut,” ungkapnya.

Untuk diketahui, PT Abhipatra Mudawana dalam iklannya berpura-pura menyewakan dan menjual ekscavator, bulldozer, crane, berbagai jenis truk, dan segala peralatan mesin konstruksi dengan mencantumkan harga sewa ratusan ribu per jam. Atas penipuan ini, korban yang bernama Bernardus Dwijoga Pradana Iswara mengalami kerugian hingga Rp. 109 juta atas transaksi penyewaan crane yang telah ditransfernya ke rekening Bank Mandiri milik perusahaan ini. Pelaku yang berhasil ditangkap kini mendekam di tahanan Polda Metro Jaya dan diancam Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 28 ayat 1 UU ITE tentang perbuatan merugikan konsumen dalam transaksi elektronik.

  1. Kasus Kejahatan pada Tahun 2014

Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang serius menangani kasus laporan tudingan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) terhadap wartawan Seputar Indonesia Deni Irawan, 35 tahun.

Deni dilaporkan M. Fadhlin Akbar, anak mantan Wali Kota Tangerang Wahidin Halim, karena menulis status pribadi di BlackBerry Messenger (BBM) Ahad, 16 Februari 2014 lalu yang bernada menyudutkan bertulisan: “Bener gak Fadlin ditangkap? # iya anaknya WH..hadehh.” Lantaran itulah, Fadlin melaporkan Deni dengan Pasal 310 dan 311 KUHP serta UU ITE. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Tangerang Ajun Komisaris Besar Sutarmo mengatakan polisi akan memanggil Deni dan dua saksi terkait laporan Fadhlin itu. “Ya terlapor (-Deni) akan dipanggil, tapi belum hari ini. Kami menjadwalkan pemanggilan saksi lebih dulu,” kata Sutarmo, Rabu, 19 Februari 2014. Sutarmo mengatakan, berkaitan dengan penyidikan, dia akan memanggil saksi Ahmad Jazuli Abdilah dan Sumantri. Jazuli merupakan kerabat Fadhlin yang memiliki bukti kopi status Deni tersebut. Sedangkan Fadhlin dan Deni dalam BBM tidak berteman.

Dalam salinan berkas surat tanda penerimaan laporan/pengaduan oleh Polrestro Tangerang yang diterima Tempo disebutkan, pada Ahad, 16 Februari 2014, Deni menuliskan status seperti di atas. Atas status itu, Jazuli kemudian memberitahu Fadhlin. Setelah itu, Jazuli juga menanyakan status yang ditulis itu kepada Sumantri, wartawan Media Indonesia di Tangerang. “Saya tanya ke Sumantri karena dia berkawan dengan Deni sebagai wartawan,” kata Jazuli.

Fadhlin mengatakan penyebutan dia sebagai anak Wahidin Halim itu meresahkan keluarganya. Apalagi yang berkembang di lapangan, ia ditangkap polisi karena narkoba. “Ini sudah menjadi fitnah keji. Banyak orang kemudian bertanya kepadanya, ditambah keluarga besarnya menjadi resah dan tidak nyaman.” Sebelumnya Deni sudah mengatakan pasrah atas laporan itu. “Saya dipenjara pun siap. Untuk menyewa pengacara saya tak bisa,” ujarnya.

Analisa Kasus: Berdasarkan berita tersebut dapat kita ketahui bahwa kasus cyber crime tersebut termasuk kedalam Illegal Contens yang merupakan kejahatan yang dilakukan dengan memasukan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis dan dapat dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum contohnya, penyebaran pornografi, penyebaran berita tidak benar. Jonathan Rosenoer dalam Cyber law, the law of internet mengingatkan tentang ruang lingkup dari cyber law salah satu diantaranya ialah Pencemaran nama baik (Defamation). Dimana hal tersebut sesuai dengan berita di atas dan di kenakan pasal 27 Ayat (3) UU ITE No. 11 Tahun 2008 tentang penghinaan atau pencemaran nama baik di internet.

  1. Kasus Kejahatan pada Tahun 2015

Pembunuhan @tataa_chubby, Bisnis Prostitusi Online Bakal Dilacak Liputan6.com, Jakarta – Kasus pembunuhan Deudeuh Alfi Sahrin mengungkap tentang maraknya prostitusi online di tanah air. Secara terang-terangan, pemilik akun Twitter @tataa_chubby itu mempromosikan diri di media sosial. Calon Kapolri Komjen Pol Badrodin Haiti mengatakan, kasus prostitusi online akan dilimpahkan ke Laboratorium Cyber Crime Polri. “Itu bisa di-tracking melalui laboratorium cyber yang kita punya”, kata Badrodin usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/4/2015). Selain kasus prostitusi online, jenderal bintang 3 itu mengatakan, laboratorium cyber crime juga bertugas untuk melacak praktik menyimpang lainnya. “Seperti kasus perjudian, kasus penipuan, dan termasuk kasus prostitusi cyber“, tegas Badrodin. Deudeuh atau yang populer di Twitter bernama Tata Chubby ditemukan tewas di kamar kosnya Jalan Tebet Utara 15-C, Nomor 28 RT 7 RW 10, Tebet Timur, Jakarta Selatan pada Sabtu 11 April malam. Jenazah Deudeuh dalam kondisi tanpa busana, mulut disumpal kaus kaki hitam dan leher dijerat kabel. Di kamar janda 1 anak itu, polisi menemukan 2 alat kontrasepsi bekas pakai. Jenazah Deudeuh yang juga akrab disapa Empi itu dimakamkan keluarganya di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat Minggu 12 April 2015 siang. Sang pembunuh, M Prio Santoso atau Rio, ditangkap di Jonggol, Bogor, Jawa Barat pada Rabu 15 April 2015 dini hari.

Rio merupakan guru matematika di lembaga bimbingan belajar. Rio telah memiliki seorang istri dan 1 anak. Mereka sedang menanti kelahiran anak kedua. Setelah kasus deudeuh rupanya pihak berwajib terus menindak lanjuti kasus prostitusi online. Hingga tercuat bahwa pekerja prostitusi online ini beberapa di antaranya merupakan selebritis, seperti yang di beritakan. Polres Metro Jakarta Selatan menciduk seorang artis berinisial AA di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2015) malam. AA ditangkap saat sedang bersama pria di hotel mewah tersebut.

Berdasarkan keterangan polisi, terciduknya AA berdasarkan pengembangan terhadap seorang germo alias mucikari yang kerap menjajakan wanita cantik via online. Adapun AA diduga sebagai salah seorang artis yang dijajakan oleh si germo.

Alhasil, baik mucikari berinisial RA dan AA digelandang ke Mapolres Jakarta Selatan. Dalam keterangan kepada wartawan, Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wahyu Adiningrat, menuturkan bahwa mucikari berinisial RA sudah sejak lama jadi incaran polisi. “Jadi kami sudah lama mencari RA, karena terkait prostitusi online. Nah, dalam penangkapan itu kami juga menemukan AA, yang berprofesi sebagai artis”, ucap Kombes Pol Wahyu Adiningrat. Adapun AA tidak turut dihadirkan saat polisi memberi keterangan pers.‎ Hingga saat ini, AA masih berada di tahanan polres dengan status sebagai saksi. Ia tengah menjalani pemeriksaan di hadapan penyidik.

  1. Contoh Kejahatan pada Tahun 2016

Sempat diamankan ABG provokator final sepakbola di GBK dikembalikan ke orang tua, Jakarta – Unit I Subdit Cyber crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengamankan seorang ABG berusia 13 tahun atas dugaan memprovokasi terkait final sepakbola di GBK. Pelajar SMP berinisial ATB itu dikembalikan ke orang tuanya karena masih dibawah umur. “Benar, yang bersangkutan kami amankan karena diduga memprovokasi di media sosial Facebook (untuk melakukan) terjadinya kekerasan terkait penyelenggaraan Bhayangkara Cup antara Persib melawan Arema Malang”, jelas Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Mujiyono saat dihubungi detikcom, Minggu (3/3/2016). Sementara itu, Kanit I Subdit Cyber crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Kompol Nico Setiawan menjelaskan, diamankannya ATB ini setelah pihaknya melakukan patroli siber, terkait banyaknya akun-akun di media sosial yang menyebar kata-kata mengandung provokasi. Sebelum mengamankan ATB, pihaknya tidak mengetahui bahwa ATB masih di bawah umur. “Kami selidiki sebuah akun yang memposting kata-kata yang bersifat provokasi yang diposting di sebuah grup ‘Debat TheJak/AremavsViking/Bonekmania’, dan kami telusuri pemilik akun tersebut, ternyata usianya masih 13 tahun. Dia masih sekolah kelas 2 SMP”, jelas Nico.

ATB diamankan pada Jumat (1/3) malam di sekitar rumahnya di kawasan Manggarai, Jaksel. “ Waktu diamankan sempat nangis, dan kami juga ketemu dengan orang tuanya. Orang tuanya sempat marah juga sama anaknya, karena anak ini termasuk berprestasi juga di sekolahnya”, imbuh Nico. Karena usianya masih di bawah umur, polisi pun tidak menahannya dan mengembalikan ATB kepada orang tuanya untuk dibina setelah membuat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Polda Metro Jaya juga berkoordinasi dengan Bapas terkait kasus ATB ini. “Proses tetap jalan, tetapi kami kedepankan upaya diversi hukum (penyelesaian hukum di luar pengadilan). Intinya dia tidak mengerti kalau tulisannya itu sudah memprovokasi dan dapat diproses secara hukum”, lanjutnya.

Sementara itu, Nico mengungkap, pihaknya terus melakukan patroli di dunia maya untuk mencari provokator yang akan mengganggu jalannya final sepakbola antara Persib melawan Arema Malang di GBK, Jakpus, Minggu (3/3) sore nanti. “Sudah banyak temuan, tetapi karena akun-akunnya palsu atau anonimus sehingga masih kami lacak. Sementara yang sudah terungkap baru satu itu,” kata Nico. Terkait kasus ATB sendiri, Nico menyatakan bahwa ATB bukan member dari Jakmania. “Dia hanya pendukung Persija tetapi tidak terdaftar sebagai member Jakmania. Dan yang bersangkutan sudah mengakui bahwa tulisan provokasi itu dia sendiri yang membuatnya”, pungkasnya. Jakarta – Direktorat Siber Bareskrim Polri mengungkap otak pelaku pembobolan jual-beli tiket online PT Global Networking. Otak aksi peretasan ini adalah SH (19) alias Haikal, yang merupakan lulusan SMP. SH diketahui sudah meretas sebanyak 4.600 situs, termasuk situs milik Polri. Dia belajar meretas ini secara otodidak melalui internet. Uang yang terkumpul dari hasil pembobolan tersebut pun cukup fantastis, yaitu mencapai hingga Rp 600 juta. “Saudara SH otodidak. Berhasil membobol lebih dari 4.600 situs. Di antaranya situs milik Polri, pemerintah pusat dan daerah, situs ojek online dan beberapa situs di luar negeri”, kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto di kompleks Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (30/3) lalu. Haikal mengaku uang hasil membobol situs ini digunakan untuk berfoya-foya. Bahkan Haikal menggunakan uang tersebut untuk membeli motor sport Ducati, yang harganya ratusan juta rupiah. “Saya belikan motor Ducati sama foya-foya. Nggak ada pengeluaran untuk investasi”, ujar Haikal di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat. Namun, pelaku lainnya, Khairul alias MKU mengatakan pembagian uang dari hasil pembobolan ini juga tidak menentu. “Uang pembagian tidak menentu. Saya pribadi (mendapat) Rp 600 juta kurang-lebih. Selebihnya juga untuk foya-foya,” ujar Khairul. Akibat tindakan pembobolan tersebut, perusahaan PT. Global Networking mengalami kerugian lebih dari Rp 4 miliar. Kasus tersebut sebelumnya dilaporkan oleh PT. Global Networking selaku pemilik situs tiket.com pada 11 November 2016.

Menurut ahli digital forensic Ruby Alamsyah, tindakan peretasan oleh Haikal ini masih dalam level yang ‘cetek’. Hal ini memungkinkan bisa dikarenakan pengamanan server jual-beli tiket online tersebut memang rendah. “Jadi hacker tersebut sebenarnya nggak melakukan apa-apa yang canggih. Mereka cuma memanfaatkan informasi pengetahuan serta tools yang ada. Kebetulan situs-situs tersebut memang tidak aware terhadap sekuriti yang cukup tinggi, akhirnya gampang dibobol”, terang Ruby saat berbincang dengan detikcom.

Hacker yang jenius, dijelaskan Ruby, biasanya akan melakukan riset terlebih dahulu terhadap target target, lalu membuat tools dan membuat exploit versi mereka sendiri. Lalu mereka akan meretas dan mengambil datanya untuk melakukan penutupan, sehingga tidak bisa ditangkap. “Kalau yang ini kan sudah jelas. Menurut saya sih, kalau dari kacamata kami sebagai praktisi, security-nya memang biasa saja, kok. Masalahnya banyak di Indonesia yang bisa melakukan hal ini, tinggal yang nekat siapa. Nah, kebetulan kelompok inilah yang nekat”, tambahnya.

  1. Contoh Kejahatan pada Tahun 2017

Jakarta – Ancaman teroris siber yang menyerang 99 negara dengan teknik ransomware ternyata ikut menimpa Indonesia. Bahkan, ada ribuan alamat internet protocol (IP) yang terinfeksi. “Jumlah infeksi di Indonesia diperkirakan ribuan IP yang terditeksi, dan Indonesia termasuk ke dalam salah satu Negara yang terkena ‘WannaCry’ parah”, ungkap Alfons Tanujaya, praktisi keamanan internet Vaksincom, kepada detikINET, Sabtu (13/5/2017). WannaCrypt atau yang juga disebut WannaCry merupakan nama ransomware yang digunakan oleh para peretas ini untuk menyerang negara-negara yang jadi target serangan mereka. Sialnya, ransomware ini juga sudah menyerang sejumlah Rumah Sakit di Indonesia.
“Kelihatannya banyak institusi kesehatan yang pakai Windows dan tidak disiplin untuk menambal (patch) celah keamanan,” demikian Alfons menganalisa kasus ini.
Seharusnya, kata dia, celah yang ada di Windows itu bisa ditambal oleh tim IT di Rumah Sakit tersebut sejak Maret lalu. “Ini karena tidak di-patch jadi si Wannacry bisa menginfeksi”, jelasnya lebih lanjut. Karena aksi ransomware ini, menurutnya sistem antrean di Rumah Sakit jadi terhambat. Kondisi seperti ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak Negara lainnya. “Dalam 24 jam terakhir IP WannaCry yang aktif 104.130 dari total 104.118 domain yang terdeteksi. 102.769 sudah mati dan tinggal 1.349 yang aktif di seluruh dunia”, pungkas Alfons.
Seperti dilansir AFP dan BBC, serangan siber global ini terjadi pada Jumat (12/5/2017) waktu setempat. Selain Inggris, negara-negara yang terdampak antara lain Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Spanyol, Italia, Taiwan dan sebagainya.

Serangan siber ini menggunakan teknik bernama ransomware, jenis virus malware (malicious software) yang berkembang paling cepat. Data dalam komputer di ribuan lokasi yang terkena ransomware, terkunci oleh program yang meminta pemilik untuk membayar USD 300 dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, jika ‘kunci’ itu ingin dibuka. “Kami sekarang melihat ada lebih dari 75 ribu pendeteksian (serangan siber) di 99 negara. Ini sangat besar”, sebut Jacob Kroustek dari perusahaan keamanan dunia maya, Avast, dalam blog-nya. Kroustek menyebut ransomware yang disebut WCry atau WannaCry ini melanda seluruh dunia.

Secara terpisah, peneliti dari perusahaan keamanan siber Karpersky, Costin Raiu, menyebut ada 45 ribu serangan siber di 74 negara. Raiu menyebut, malware itu mereplika dirinya sendiri dan menyebar dengan cepat. Serangan siber ini memanfaatkan celah dalam bocoran dokumen yang didapat dari Badan Keamanan Nasional AS atau NSA. Sejumlah perusahaan keamanan dunia maya menyebut, serangan siber ini diyakini menggunakan ‘tools‘ yang dikembangkan oleh NSA.
Pada April lalu, kelompok peretas bernama The Shadow Brokers mengklaim telah mencuri ‘tools‘ NSA itu dan merilisnya secara online. ‘Tools‘ itu dibuat tersedia secara bebas di internet dengan password yang dipublikasi oleh kelompok peretas itu. Namun pelaku di balik serangan siber global ini belum diketahui pasti.

Perusahaan teknologi multinasional yang berbasis di AS, Microsoft, telah merilis antisipasi kerawanan untuk ‘tools‘ itu pada Maret, namun kebanyakan sistem mungkin belum ter-update. Jaringan komputer untuk rumah sakit di Inggris terkena serangan siber ini. Demikian halnya dengan Kementerian Dalam Negeri Rusia, jaringan komputer perusahaan telekomunikasi Spanyol ‘Telefonica‘ dan perusahaan ekspedisi ternama AS FedEx, serta banyak lainnya.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris dan Badan Kriminal Nasional negara itu tengah menganalisis insiden ini. Layanan ambulans di fasilitas Dinas Kesehatan Nasional (NHS) Inggris terdampak parah akibat serangan siber ini. NHS menyatakan ‘insiden besar’ usai serangan siber terjadi, yang memaksa beberapa rumah sakit mengalihkan atau membatalkan layanan ambulans secara otomatis. Kementerian Dalam Negeri Rusia menyebut beberapa komputernya terkena ‘serangan virus’ dan kini tengah berupaya untuk menghancurkannya. Sedangkan pihak FedEx di AS menyadari adanya serangan siber ini dan menyatakan sedang mengambil langkah pemulihan secepat mungkin.

Tim cepat tanggap komputer pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyadari terjadinya infeksi ransomware di beberapa negara secara serentak. Forcepoint Security Labs, kontraktor pertahanan AS khusus menangani keamanan siber, menyatakan serangan ini memiliki ‘skala global‘ dan mempengaruhi jaringan di Australia, Belgia, Prancis, Jerman, Italia dan Meksiko.

Advertisements

Berikut ini beberapa pasal yang ada di Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik ( UU ITE No.11 Tahun 2008), sebagai berikut:

  • Kesusilaan (Pasal 27 ayat [1] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Akan tetapi dalam pasal tersebut masih kurangnya kejelasan: Pertama, pihak yang memproduksi dan yang menerima serta yang mengakses tidak terdapat aturannya Kedua, definisi kesusilaannya belum ada penjelasan batasannya

 

 

  • Perjudian (Pasal 27 ayat [2] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.”

Bagi pihak-pihak yang tidak disebutkan dalam teks pasal tersebut, akan tetapi terlibat dalam acara perjudian di internet misalnya: para penjudi tidak dikenakan pidana.

  • Penghinaan atau pencemaran nama baik (Pasal 27 ayat [3] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Pembuktian terhadap pasal tersebut harus benar-benar dengan hati-hati karena dapat dimanfaatkan bagi oknum yang arogan.

  • Pemerasan atau pengancaman (Pasal 27 ayat [4] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman”. UU ITE tidak/atau belum mengatur mengenai cyber terorisme yang ditujukan ke lembaga atau bukan perorangan.

  • Berita bohong yang menyesatkan dan merugikan konsumen (Pasal 28 ayat [1] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.”

  • Menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA (Pasal 28 ayat [2] UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).”

  • Mengirimkan informasi yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi (Pasal 29 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.”

  • Dengan cara apapun melakukan akses illegal (Pasal 30 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

Ayat (1)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apapun.”

Ayat (2)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau. Dokumen Elektronik.”

Ayat (3)

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

  • Intersepsi illegal terhadap informasi atau dokumen elektronik dan Sistem Elektronik (Pasal 31 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

Ayat (1)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu komputer dan/atau sistem elektronik tertentu memilki orang lain.”

Ayat (2)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari, ke, dan di dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik orang lain, baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan.
Ayat (3)

“Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.”

Ayat (4)

“Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.”

  1. Tindakpidana yang berhubungan dengan gangguan (interferensi), yaitu:
  • Gangguan terhadap Informasi atau Dokumen Elektronik (data interference Pasal 32 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

Ayat (1)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.”
Ayat (2)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkanatau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak.”
Ayat (3)

“Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang. mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya.”

  • Gangguan terhadap Sistem Elektronik (system interference –Pasal 33 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.”

  • Tindak pidana memfasilitasi perbuatan yang dilarang (Pasal 34 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

Ayat (1)

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor, mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:

  1. perangkat keras atau perangkat lunak Komputer yang dirancang atau secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33;
  2. sandi lewat Komputer, Kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu yang ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33.”

Ayat (2)

“Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian Sistem Elektronik, untuk perlindungan Sistem Elektronik itu sendiri secara sah dan tidak melawan hukum.”

  • Tindak pidana pemalsuan informasi atau dokumen elektronik (Pasal 35 UU ITE No. 11 Tahun 2008);

“Setiap Orang dengan sengaja. dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.”

  • Tindak pidana tambahan (accessoir Pasal 36 UU ITE No. 11 Tahun 2008); dan

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”

  • Perberatan-perberatan terhadap ancaman pidana (Pasal 52 UU ITE No. 11 Tahun 2008).

Ayat (1)

“Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dan pidana pokok.”

Ayat (2)

“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ,sampai dengan Pasal 37 ditujukan terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau yang digunakan untuk layanan publik dipidana dengan pidana pokok ditambah sepertiga.”

Ayat (3)

“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 37 ditujukan, terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau badan strategik termasuk dan tidak terbatas pada lembaga pertahanan, bank sentral, perbankan, keuangan, lembaga internasional, otoritas penerbangan diancam dengan pidana maksimal ancaman pidana pokok masing-masing Pasal ditambah dua pertiga.”

Ayat (4)

“Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 dilakukan oleh korporasi dipidana dengan pidana pokok ditambah dua pertiga.”

  • UU ITE No. 11 Tahun 2008 juga mengatur Ketentuan Pidanyanya yang terdapat di antaranya :

Pasal 45

Ayat (1)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Ayat (2)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal, 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Ayat (3)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

Pasal 46

Ayat (1)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).”

Ayat (2)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah).”

Ayat (3)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000,000,00 (delapan ratus juta rupiah).”

 

 

 

Pasal 47

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).”

Pasal 48

Ayat (1)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

Ayat (2)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).”

Ayat (3)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”

Pasal 49

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).”

Pasal 50

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),”

Pasal 51

Ayat (1)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).”

Ayat (2)

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).”

 

Pengaturan Tindak Pidana Siber Formil di Indonesia. Selain mengatur tindak pidana siber materil, UU ITE mengatur tindak pidana siber formil, khususnya dalam bidang penyidikan. Pasal 42 UU ITE No. 11 Tahun 2008 yang berbunyi “Penyidikan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud. dalam Undang-Undang ini, dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana dan ketentuan dalam Undang-Undang ini.” mengatur bahwa penyidikan terhadap tindak pidana dalam UU ITE dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”) dan ketentuan dalam UU ITE.

  1. UU ITE ini sangat membatasi hak kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan dapat menghambat kreativitas masyarakat dalam bermain internet, terutama pada pasal 27 ayat (1) dan (3), pasal 28 ayat (2), dan pasal 31 ayat (3) ini sangat bertentangan pada UUD 1945 pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Pada pasal 16 disebutkan penyelenggarraan sistem elektronik wajib memenuhi persyaratan dalam mengoperasikan sistem elektronik, persyaratan yang dikemukakan masih kurang jelas contohnya pada ayat 1(b) tentang melindungi kerahasian lalu bila seseorang pemakai sistem elektronik contohnya pada web server yang mempunyai aspek keamanan yang lemah apakah itu melanggar undang-undang. Pada pasal 27 tentang perbuatan yang dilarang yaitu pasal 1 dan 2 muatan yang melanggar kesusilaan dan muatan perjudian disana tidak dijelaskan bagaimana standar kesusilaan dan definisi suatu perjudian tersebut ini juga bisa membuat sulit dan was-was masyarakat dalam berinternet takut dianggap melanggar undang-undang akibatnya masyarakat menjadi agak dipersempit ruang geraknya dan dapat juga menghambat aktivitas.
  2. Beberapa yang masih terlewat, kurang lugas dan perlu didetailkan dengan peraturan dalam tingkat lebih rendah dari UU ITE (Peraturan Menteri, dsb) adalah masalah:
  • Spamming, baik untuk email spamming mauun masalah penjualan data pribadi oleh perbankan, asuransi dsb.
  • Virus dan worm komputer (masih implisit di Pasal 33), terutama untuk pengembangan dan penyebarannya.
  • Kemudian juga tentang kesiapan aparat dalam implementasi UU ITE.
  1. Walaupun sudah disahkan oleh legislatif, UU ITE masih rentan terhadap pasal karet, atau pasal-pasal yang intepretasinya bersifat subjektif/individual. Memang undang-undang ini tidak bisa berdiri sendiri, dapat dikatakan bahwa undang-undang ini ada hubungan timbal balik dengan RUU Anti-Pornografi. Dan ada beberapa pasal yang dianggap sebagai pasal-pasal rawan masalah. Seperti pasal 27 ayat 1,2,3 dan 4.

  1. Dapat mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan internet yang merugikan contohnya pembobolan situs-situs tertentu milik Pemeritah dan transaksi elektronik seperti bisnis lewat internet juga dapat meminimalisir adanya penyalahgunaan dan penipuan. Pada pasal 2 UU ITE berlaku terhadap orang-orang yang tinggal di Indonesia maupun di luar Indonesia ini dapat menghakimi dan menjerat orang-orang yang melanggar hukum di Indonesia
  2.  UU ITE tidak hanya membahas situs porno atau masalah asusila. Total ada 13 Bab dan 54 pasal yang mengupas secara mendetail bagaimana aturan hidup di dunia maya dan transaksi yang terjadi di dalamnya.

Berdasarkan karakteristik khusus yang terdapat dalam ruang cyber maka dapat dikemukakan beberapa teori sebagai berikut:

  • The Theory of The Uploader and The Downloader, berdasarkan teori ini suatu Negara dapat melarang dalam wilayahnya, kegiatan uploading dan downloading yang diperkirakan dapat bertentangan dengan kepentingannya. Misalnya suatu Negara dapat melarang setiap orang untuk uploading kegiatan perjudian atau kegiatan perusakan lainnya dalam wilayah Negara dan melarang setiap dalam wilayahnya untuk downloading kegiatan perjudian tersebut. Minnesota adalah suatu Negara pertama yang menggunakan juridiksi ini.
  • The Theory of Law of The Server, pendekatan ini memperlakukan server dimana webpages secara fisik berlokasi, yaitu dimana mereka dicatat sebagai data elektronik. Menurut teori ini sebuah webpages yang berlokasi di server pada Standford University tunduk terhadap hukum California. Namun teori ini akan sulit digunakan apabila uploader berada dalam juridiksi asing.
  • The Theory of International Space, yaitu ruang cyber dianggap sebagai The Fourth Space yang menjadi analogi adalah tidak terletak pada kesamaan fisik, melainkan pada sifat internasional, yaitu Soveregnless Quality.

Dalam kaitannya dengan penetuan hukum yang berlaku dikenal beberapa asas yang biasa digunakan, yaitu:

  • Subjective Territoriality, yang menekankan bahwa keberlakuan hukum yang ditentukan berdasarkan tempat perbuatan yang dilakukan dan penyelesaian tindak pidananya dilakukan di Negara lain.
  • Objective Territoriality, yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum dimana akibat utama perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi Negara yang bersangkutan.
  • Nationality, yang menentukan bahwa Negara mempunyai juridiksi untuk menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku.
  • Protective Principle, yang menyatakan berlakunya hukum didasarkan atas keinginan Negara untuk melindungi kepentingan Negara dari kejahatan yang dilakukan diluar wilayahnya, yang umumnya digunakan apabila korban adalah Negara atau pemerintah.

Melalui siaran persnya Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementrian, Gatot S.Dewa Broto memberikan empat cara mencegah serangan kejahatan dunia maya yang biasanya berupa pencurian, yaitu:

  1. Gunakan LAN nirkabel dirumah atau kantor setelah pengaturan enkripsi data seperti (WPA2 : Wi-Fi Protected Acces 2 ) sehingga komunikasi teks yang jelas tidak dapat disadap dan mencegah akses yang tidak sah.
  2. Untuk pengguna smartphone dianjurkan untuk selalu memperbarui sistem operasi, aplikasi dan perangkat lunak anti virus ke versi terbaru yang tersedia. Selain itu saat mendownload aplikasi, pastikan untuk memeriksa apakah situs tersebut dapat dipercaya dan cek siapa yang menyediakan aplikasi tersebut.
  3. Pengguna internet juga diharapkan bisa lebih berhati-hati saat mengklik situs yang tidak bisa dipercaya.
  4. Untuk pengguna surat elektronik dianjurkan untuk tidak membuka lampiran email atau URL yang mencurigakan. Instal perangkat lunak antivirus dan pastikan selalu up to date, serta secara berkala memperbarui aplikasi disamping sistem operasi (OS).

Latar Belakang

Teknologi informasi dan komunikasi adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Pada saat ini teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet berkembang dengan pesat. Sebagian besar masyarakat yang ada memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi komputer  dalam berbagai bidang seperti untuk sosial, politik, agama, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, serta sistem pertahanan dan keamanan suatu Negara.

Informasi merupakan komoditi utama yang diperjual belikan sehingga akan muncul berbagai network dan information company yang akan memperjual belikan berbagai fasilitas bermacam jaringan dan berbagai basis data informasi tentang berbagai hal yang dapat diakses oleh pengguna dan pelanggan. Oleh sebab itu dibalik manfaat internet banyak beberapa orang yang menyalahgunakan untuk beberapa hal yang negatif dengan melakukan aktivitas kejahatan menggunakan komputer dan jaringan komputer yang melawan hukum.

Jenis Kejahatan

  • Malware (Malicious Software)

Malware adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem computer, server atau jaringan computer tanpa izin dari pemilik. Istilah ini adalah istilah umum yang dipakai oleh pakar computer untuk mengartikan berbagai macam perangkat lunak atau kode perangkat lunak yang mengganggu atau mengusik . istilah virus computer terkadang dipakai sebagai frasa pengikat untuk mencakup semua jenis perangkat perusak, termasuk virus murni.

  • Denial Of Service (DOS)

Denial of service attack atau serangan DOS adalah jenis serangan terhadap sebuah computer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber (resource) yang dimiliki oleh computer tersebut sampai computer tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan benar sehingga secara tidak langsung mencegah pengguna lain untuk memperoleh akses layanan dari computer yang diserang tersebut

  • Computer Viruses

Virus komputer merupakan program computer yang dapat menggandakan atau menyalin dirinya sendiri dan menyebar dengan cara menyisipkan salinan dirinya kedalam program atau dokumen lain. Virus murni hanya dapat menyebar dari sebuah computer ke computer lainnya dalam sebuah bentuk kode yang bisa diesekusi ketika inangnya diambil ke computer target. Contohnya ketika user mengirimnya melalui jaringan atau internet, atau membawanya dengan media lepas (floppy disk, cd, dvd, atau usb drive). Virus bisa bertambah dengan menyebar ke computer lain dengan menginfeksi file pada network file system (sistem file jaringan) atau sistem file yang diakses oleh computer lain.

  • Cyber Stalking (Pencurian Dunia Maya)

Cyber Stalking adalah pengunaan internet atau alat elektronik lainnya untuk menghina atau melecehkan seseorang, sekelompok orang, atau organisasi. Hal ini termasuk tuduhan palsu, memata-matai, membuat ancaman, pencurian identitas, pengerusakan data atau peralatan, penghasutan anak dibawah umur untuk seks, atau mengumpulkan informasi untuk menggangu. Definisi dari pelecehan harus memenuhi kriteria bahwa seseorang secara wajar dalam kepemilikan informasi yang sama akan menganggap itu cukup untuk menyebabkan kesulitan orang lain secara masuk akal.

  • Penipuan dan Pencurian Identitas

Pencurian identitas adalah menggunakan identitas orang lain seperti KTP, SIM, atau paspor untuk kepentingan pribadinya, dan biasanya digunakan untuk tujuan penipuan. Umumnya penipuan ini berhubungan dengan internet, namun sering juga terjadi dikehidupan sehari-hari. Misalnya penggunaan data yang ada dalam kartu identitas orang lain untuk melakukan suatu kejahatan. Pencuri identitas dapat menggunakan identitas orang lain untuk suatu transaksi atau kegiatan, sehingga pemilik identitas yang aslilah yang kemudian dianggap melakukan kegiatan atau transaksi tersebut.

  • Phishing Scam

Dalam sekuriti computer, phising (pengelabuan) adalah suatu bentuk penipuan yang dicirikan dengan percobaan untuk mendapatkan informasi peka, seperti kata sandi dan kartu kredit, dengan menyamar sebagai orang atau bisnis yang terpercaya dalam sebuah komunikasi elektronik resmi, seperti surat elektronik atau pesan instan. Istilah phishing dalam bahasa inggris berasal dari kata fishing yang bearti memancing. Dalam hal ini bearti memancing informasi keuangan dan kata sandi pengguna.

  • Perang Informasi (Information Warfare)

Perang informasi adalah penggunaan dan pengelolaan informasi dalam mengejar keunggulan kompetitif atas lawan. Perang informasi dapat melibatkan pengumpulan informasi taktis, jaminan bahwa informasi sendiri adalah sah, penyebaran propaganda atau disinformasi untuk menurunkan moral musuh dan masyarakat, merusak kualitas yang menantang kekuatan informasi dan penolakan peluang pengumpulan informasi untuk menentang kekuatan. Informasi perang berhubungan erat dengan perang psikologis.

Pengertian

Cyber Crime atau kejahatan dunia maya adalah istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer menjadi alat, sasaran atau tempat terjadinya kejahatan dunia maya antara lain adalah penipuan lelang secara online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit/carding, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi anak, dan masih banyak kejahatan dengan cara internet juga termasuk pelanggaran terhadap privasi ketika informasi hilang dan lain sebagainya.
Walaupun kejahatan dunia maya atau cyber crime umumnya mengacu pada aktifitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer sebagai unsur utamanya istilah ini juga digunakan kejahatan dunia maya di mana komputer sebagai sasarannya adalah akses ilegal (mengelabui kontrol akses), malware dan serangan DoS . Contoh kejahatan dunia maya di mana komputer sebagai tempatnya adalah penipuan identitas. Sedangkan contoh kejahatan tradisional dengan komputer sebagai alatnya adalah pornografi anak dan judi online.